Tampilkan postingan dengan label Artikel Tematik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Tematik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2016

CIRI-CIRI ORANG YANG TERKENA FITNAH

?? BimbinganIslam.com
Sabtu, 02 Rabi'ul Akhir 1438 H / 31 Desember 2016 M
?? Ustadz Zainal Abidin,  Lc
?? Materi Tematik | Ciri-Ciri Orang Yang Terkena Fitnah
? Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-ZA-CiriKenaFitnah
?? Sumber: https://youtu.be/TgzP5PqEyr4
-----------------------------------

*CIRI-CIRI ORANG YANG TERKENA FITNAH*


?????? ????? ????? ???? ???????
????? ??? ??????? ???????? ????????? ??????????? ??????? ???????? ???????????? ????? ???????? ??????? ?????? ?????? ??????????????? ???????? ????? ??? ?????? ?????? ???? ???????? ??? ??????? ????? ??????? ????????? ???????? ????????????
?????????? ????? ????? ?????????? ??????? ??? ?????????? ????? ????????? ????? ????????????? ??????? ??? ????????????? ??????? ??????? ????????

Kaum muslimin yang berbahagia, Shah?bat BiAS yang dirahmati oleh All?h Subh?nahu wa Ta'?la.

Ras?lull?h shallall?hu 'alayhi wa sallam menegaskan:

????? ?????????? ?????? ??????? ?????????

_"Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah."_

(Had?ts, shah?h riwayat Ab? D?w?d nomor 4263)

Dari sini kita bisa pahami bahwa orang yang paling celaka, orang yang  paling sengsara dan binasa adalah orang yang menceburkan bahkan menjadi dalang dalam fitnah.

? Tanda-tanda orang tercebur ke dalam fitnah ada 4 (empat), yaitu:


? Dia memandang yang dulunya halal sekarang dianggap har?m atau (sebaliknya) yang dulunya har?m sekarang dianggap halal.

Demikian itu bukan karena dulu dia tidak mengerti dal?lnya kemudian sekarang paham, bukan!

Atau dulu dia tidak memahami dal?l itu dengan benar, sekarang paham, tidak!

Tapi murni pengaruh-pengaruh negatif lingkungan yang ada disekitarnya.

Bisa karena:

? Buku bacaan yang dia baca.
? Teman yang mengitarinya atau,
? Jama'ah kelompok yang diikutinya.

Sehingga muncul berbagai macam syubhat yang ada diotaknya (pikirannya)

Dengan demikian Ras?lull?h shallall?hu 'alayhi wa sallam menegaskan bahwa:

????????? ????????????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ????????? ????????? ????????? ???????? ???? ??????? ????????? ?????????? ???????? ??????? ??????? ???????? ???? ??????????

_"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang pekat (gelap gulita). Di pagi hari seorang dalam keadaan beriman, lalu kafir pada sore hari. Di sore hari seorang dalam keadaan beriman lalu kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia."_

(Had?ts riwayat Muslim nomor 169 versi Syarh Muslim nomor 118)

Dengan demikian suatu yang paling ditakutkan oleh seorang mu'min adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada keagamaannya (fitnah yang menimpa agamanya).

Sehingga Hudzaifah Ibnu Yaman mengatakan:

 ????????? ????? ??????????? ????? ??????????? ???? ???????? ??? ?????? ????????, ?????? ???????? ??? ?????? ????????, ?????????? ?????????????? ??? ????? ???? ????????, ??????? ????? ???? ???????. (??? ???? ?????? ??? ????? ???????? ?????????)

_"Ketahuilah, kesesatan dari biang kesesatan adalah engkau anggap baik yang dulunya kamu ingkari dan kamu ingkari yang dulunya kamu anggap baik. Dan waspadalah terhadap warna-warni di dalam agama All?h Ta'?l?. Sesungguhnya agama All?h satu."_

(Kitab Syarh Ushul I'tiq?d Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al L?likai)


? Berwarna-warni di dalam agamanya (???????????? ??? ?????).

Berpindah-pindah di dalam prinsipnya dan tidak memiliki satu pegangan yang tetap di dalam agamanya.

Ini yang dikatakan oleh Ummar bin AbdulAziz akibat banyaknya debat, banyaknya adu mulut.

???? ???????? ???????????? ???????? ?????????

_"Barangsiapa yang banyak adu mulut, maka dia akan gampang (banyak) untuk berubah."_

Shah?bat BiAS yang berbahagia.

Menjadi muslim dimana di dalam memegang prinsipnya, bak air di daun talas adalah ciri orang mun?fiq.

Dan memberikan warna shibqhah Isl?m di dalam dirinya berubah-ubah seperti bunglon adalah suatu yang berbahaya.

Karena kata Ras?lull?h shallall?hu 'alayhi wa sallam bahwa manusia paling buruk adalah ?? ???????, manusia yang memiliki dua wajah.

Dengan demikian kata Ras?lull?h shallall?hu 'alayhi wa sallam:

 ?????????? ?????????????? ??? ?????

_"Waspadalah kamu terhadap sikap berubah-ubah warna di dalam agama."_

? Yang kemarin dia katakan sesat, sekarang dia katakan benar.
? Yang kemarin dikatakan manhaj sekarang dikatakan khilafiyyah.

Contoh:

? Banyak orang yang dulu menganggap safarnya wanita tanpa mahram adalah har?m, tetapi sekarang dipandang halal.

? Demo dulu dianggap perkara manhaj sekarang ternyata khilafiyyah.

Ini masalah berat.


3.  Mengikuti syubhat (???? ??????????) dan tidak mau mengembalikan kepada yang muhkamat.

Ini jelas sebagaimana yang telah ditegaskan oleh All?h Subh?nahu wa Ta'?la:

???????? ????????? ??? ??????????? ?????? ?????????????? ??? ????????? ?????? ?????????? ??????????? ???????????? ??????????? ????? ???????? ??????????? ?????? ???????

_"Adapun orang-orang yang ada di dalam hatinya penyimpangan ( ??????) maka dia akan mengikuti yang mutasy?bih dalam rangka untuk mencari-cari takwil yang bathil dan mengikuti hal-hal yang sifatnya menyimpang, takwil-takwil yang tidak benar dalam hal-hal yang sebetulnya tidak tahu takwil secara benar kecuali All?h Subh?nahu wa Ta'?la."_

(QS Al 'Imr?n: 7)

Kita temui banyak diantara tokoh, diantara mereka yang dikatakan ulam? atau minimal ahlul 'ilmi yang dulu sangat tegas di dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan, sangat bagus di dalam menjabarkan naskh-naskh yang muhkamah, tetapi setelah beberapa kondisi melalui dia (masa melewati dia) maka hal-hal yang diangkat kebanyakan adalah mutasyabihat.


Dan tanda orang tercebur ke dalam fitnah dan akhirnya bisa menjadi dalang fitnah adalah:

4. Mentolerir kebatilan dan bahkan memberikan banyak toleran terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan (??????? ?????? ?????? ??).

Diawali dengan mereka memuji tokoh-tokoh kebathilan, mendekati tokoh-tokoh kebathilan bahkan kompromi dengan kebathilannya.

Akhirnya tidak mau ngomong terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan agama, baik itu syirik, bid'ah maupun kufur bahkan memusuhi (menyalahkan) orang yang selama ini menjelaskan kebathilan.

Menyalahkan orang yang menjelaskan tentang kebid'ahan entah karena dikatakan melawan banteng, melawan berbagai macam kekuatan-kekuatan yang mayoritas atau dia telah menabrak tembok keras yang itu akan membahayakan dirinya sendiri.

Minimal takut dakwahnya hilang dari peredaran masyarakat atau terpicunya masa rakyat kecil untuk melawan dia dan berbagai macam alasan-alasan yang ada.

Semoga kita semuanya bisa terhindar dari empat yang menjadi ciri khas orang terjatuh kedalam fitnah yang suatu ketika akan menjadi dalang fitnah.

Saya ulas lagi,

(1). Yang dulu dianggap har?m sekarang menjadi halal atau sebaliknya.

(2). Berubah-ubah warna dalam berdakwah, beragama dan dalam mengikuti ajaran dien.

(3). Mengikuti yang syubhat dan meninggalkan yang muhkamat.

(4). Mentolerir kebathilan, toleran terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan.

Semoga All?h Subh?nahu wa Ta'?la menjauhkan kita dari itu semua dan kita diberikan keteguhan oleh All?h Subh?nahu wa Ta'?la di dalam berpijak, memegang prinsip sampai kita bertemu All?h Subh?nahu wa Ta'?la.

??? ???????? ????????? ??????? ???????? ??????? ????? ????????? ????? ?????????? ?????? ?????????? ???????????

_"Wahai orang-orang yang berim?n, bertaqwalah kepada All?h sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati (bertemu All?h) melainkan dalam keadaan beragama Isl?m."_

(QS Al 'Imr?n: 102)

???????? ??????? ????? ???????????? ???? ???? ???????? ???????? ???? ?????? ?? ???? ?? ?????? ??????
??????? ????? ????? ????? ???????

____________________________

? Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
??www.cintasedekah.org
?? https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
?? youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------

Jumat, 25 November 2016

AGAR RINGAN DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN HIDUP (BAG. 6 - selesai)

�� BimbinganIslam.com
Sabtu, 26 Shafar 1438 H / 26 November 2016 M
�� Ustadz Dr. Ainul Haris, Lc. MA
�� Materi Tematik | Agar Ringan Dalam Menghadapi Permasalahan Hidup (Bag.6 - selesai)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AH-ARDMPH-06
-----------------------------------

AGAR RINGAN DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN HIDUP (BAG. 6 - selesai)

Agar Ringan Dalam Menghadapi Permasalahan Hidup

Pendengar rahimani wa rahimakumullāh.

Mengapa seorang mu'min yang tangguh imannya bisa menghadapi hidup ini dengan lapang meskipun berat tantangan hidup yang di hadapi

Yang Ke-empat| Karena seorang mu'min itu selalu bertawakal  kepada Allāh, selalu menggantungkan dirinya hanya kepada Allāh dalam segala urusannya, baik yang berat maupun yang ringan, yang lapang maupun yang sempit.

Semua masalah dia gantungkan hanya kepada Allāh, dia tidak mengantungkan permasalahan yang dihadapi kepada kemampuan dirinya sendiri. Juga dia tidak mengantungkan kepada sebab dan akibat.

Karena itu dia senantiasa  berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di pagi dan sore harinya sebagaimana di tuntunkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

 وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

"Yā Allāh,  janganlah engkau bebankan, beban-beban hidup itu terhadap diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata"

(HR Abu Daud nomor 5090)

Jadi meskipun hanya satu kedipan mata, waktu yang kita perlukan tetapi dalam kondisi waktu yang sangat singkat itupun kita tetap hanya mengantungkan kepada Allāh.

Kita tidak mengantungkan kepada diri kita, tidak mengantungkan kepada makhluk dan tidak kita gantungkan nasib dan berbagai problem yang kita hadapi kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Adapun orang-orang yang betul-betul bertawaqal, orang-orang mu'min sejati yang betul-betul bertawaqal kepada Allāh maka jaminannya jelas dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allāh maka Allāh akan mencukupi kebutuhannya"

(QS At-thalāq: 3)

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imān Bukhāri dan Imān An-Nasāi' dari Ibnu 'Abbās Radhiyallāhu 'anhu ketika Nabi Ibrāhim 'alayhissalām dilemparkan ke dalam api beliau mengucapkan, "Hasbunāllāhu wa ni'mal wakīl" (Cukuplah Allāh bagi kami, dan Allāh adalah sebaik-baik pelindung kami).

Dan kalimat ini pulalah, pendengar rahimani wa rahimakumullāh.

Yang diucapkan oleh nabi kita Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika ditakut-takuti  oleh bangsa Quraysh bahwa beliau akan diserang oleh sekumpulan pasukan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan tegasnya mengatakan, " Hasbunāllāhu wa ni'mal wakīl".

Dalam sebuah ayatnya disebutkan dalam surat Al-Imrān ayat 173:

"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu wahai Muhammad, karena itu takutlah kepada mereka"

Inilah bentuk teror yang dilakukan oleh orang-orang Quraysh kepada nabi kita Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tapi apa jawaban nabi Muhammad?

Jawaban Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terhadap mereka adalah:

"Cukuplah Allāh menjadi penolong kami dan Allāh sebaik-baik penolong", ("Hasbunāllāhu wa ni'mal wakīl").

Pendengar rahimani wa rahimakumullāh.

Berbeda dengan orang yang tidak bertawakal kepada Allāh, yang tidak mengantungkan hidupnya kepada Allāh.

Ketika terjadi musibah, ketika menghadapi persoalan-persoalan berat dia akan kebinggungan karena dia menggantungkan semuanya kepada dirinya atau kepada sebab akibat atau kepada makhluk sementara dirinya lemah, sementara makhluk itu lemah. Sehingga dengan demikian dia akan semakin menderita karena tidak mampu menghadapi berbagai persoalan-persoalan yang setengah merundung dirinya.

Pendengar rahimani wa rahimakumullāh.

Semuanya itu tidak akan mampu dia selesaikan bahkan sebaliknya dengan mengantungkan terhadap dirinya sendiri maka dia semakin bertambah sengsara.

Yang kelima | Seorang mu'min itu senantiasa mampu menghadapi persoalannya, betapapun beratnya persoalan itu, karena dia sebagai seorang muslim yakin bahwa pilihan Allāh itulah pilihan yang terbaik.

Karena itu disebutkan didalam Al-Qurān:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Janganlah kamu membenci sesuatu padahal ia adalah lebih baik bagimu dan janganlah kamu menyukai sesuatu padahal ia adalah lebih buruk bagimu, Allāh maha mengetahui dan kamu tidak mengetahui"

(QS Al-Baqarah: 216)

Dengan demikian seseorang akan tetap bahagia dengan musibah dengan penderitaan atau berbagai penyakit yang menimpa dirinya, karena dia melihat persoalan dengan prespektif jangka panjang dengan positiv thinking sehingga dia akan tetap bisa menghadapi persoalan itu dengan tenang dan dia mengharapkan sesuatu yang lebih baik dalam kehidupannya yang akan datang.

Pendengar rahimani wa rahimakumullāh.

Marilah kita lihat diri kita masing-masing, siapapun diri kita.

· Apakah kita orang yang miskin atau orang kaya?
· Apakah rakyat jelata atau seorang pejabat?

Apakah kita telah merasakan kelapangan dalam hidup ini?

√ Apakah kita sudah bisa menghadapi berbagai problem hidup kita dengan tenang?

√ Apakah kita sudah bisa menghadapi dengan optimisme yang besar?

√ Apakah kita sudah bisa berpikir positive thinking dalam menghadapi problematik hidup?

√ Apakah kita justru sebaliknya melihat masalah dengan pandangan yang buram?

√ Selalu pesimis?

√ Suka menyalahkan orang lain?

√ Sering marah mungkin bahkan suka stress?

Ketahuilah apabila itu sering terjadi pada diri kita, menunjukan bahwa iman kita masih lemah.

Iman bisa bertambah dan bisa berkurang, sebanyak tingkat keimanan kita sebesar tingkat keimanan kita, sebesar itulah kemampuan kita di dalam menghadapi berbagai problematika hidup.

Semakin lemah iman kita, maka kita akan semakin lemah pula di dalam menghadapi problematika hidup.

Kita akan gampang gelisah, gampang marah, gampang stress dan gampang berbuat dosa dan maksiat, apabila iman kita lemah.

Akan tetapi seorang mu'min hendaknya terus berusaha untuk meningkatkan keimanan nya karena memang iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Seorang mu'min sejatinya selalu dalam kebahagiaan, senantiasa dalam kebahagiaan dan kelapangan dalam kondisi apapun.

Seperti dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah:

"Di dunia ini sudah ada surga, sudah ada kebahagiaan, ketenangan dan kelapangan, barang siapa yang tidak masuk didalamnya maka dia tidak akan bisa masuk surga yang ada di akhirat".

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memiliki iman yang tangguh, sehingga selalu bisa menikmati kebahagiaan, kelapangan dan optimis dalam menghadapi setiap persoalan. Bahagia di dunia ini maupun nanti di akhirat. Āmīn.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________________________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
��www.cintasedekah.org
�� https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
�� youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Jumat, 18 November 2016

Sandaran Hati

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 19 Shafar 1438 H / 19 November 2016 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Taslim, MA
📔 Materi Tematik | Sandaran Hati
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AT-SandaranHati
🌐 Sumber: https://yufid.tv/14480-ceramah-singkat-sandaran-hati-ustadz-abdullah-taslim-ma.html
-----------------------------------

*SANDARAN HATI*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Ma'āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh.

Banyak diantara kita yang tidak memahami tingginya kedudukan bersandar kepada Allāh dalam segala sesuatu yang kita inginkan. Baik dalam kebaikan-kebaikan urusan dunia apalagi dalam urusan agama.

Tidak sedikit diantara kita yang menganggap (misalnya) bertawakkal, berdo'a kepada Allāh, bergantung kepada-Nya itu adalah perkara yang dilakukan nomor dua, nomor tiga atau nomor empat. Pertama kita usaha dulu, lakukan dulu dengan anggota badan kita.

Biasanya orang-orang mengatakan ikhtiyār dulu baru tawakkal setelah itu.

⇒ Apakah ini benar? 

Tentu ini bukan hal yang dibenarkan dalam agama.

Bertawakkal itu dilakukan dari awal, pertengahan dan sampai akhir, tidak dijadikan urusan kedua atau ketiga.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al Qurān, hidayah tergantung dari i'tisham penyandaran diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

_"Barang siapa yang selalu bersandar kepada Allāh, berpegang teguh dengan Allāh, maka dialah yang mendapatkan bimbingan, petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus."_

(QS Ali 'Imrān: 101)

Mengenai tawakkal, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qur'ān:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

_"Barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) menyandarkan hatinya dengan benar kepada Allāh maka Allāh akan mencukupi segala urusan dan kebutuhannya."_

(QS Ath Thalāq: 3)

Coba lihat!

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan tentang tawakkal itu yang harusnya diutamakan (didahulukan).

Memang kita diperintahkan untuk melakukan sebab.

Tapi siapa yang mengatakan sebab itu hanya usaha-usaha zhahir yang dilakukan manusia?

Hanya berdasarkan apa yang dipikirkan, strategi yang dirancang manusia atau kekuatan fisiknya, keterampilan badannya, siapa yang mengatakan demikian?

⇒ Do'a adalah sebaik-baik usaha, penyandaran hati adalah usaha yang paling utama.

Imām Ibnu Qayyim rahimahullāh mengatakan:

إن الدعاء من أقىوى الأسباب لجلبل مصاله ودفع المكرة

_"Sesungguhnya do'a termasuk usaha yang paling kuat, sebab yang paling besar untuk bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan dan menolak keburukan-keburukan (kejelekan-kejelekan)."_

Jadi penyandaran hati, tawakkal, takut dan berharap kepada Allāh, yakin dengan pilihan-Nya, ridhā dengan ketentuan-Nya, selalu bersangka baik kepada Allāh, ini justru yang menentukan keberhasilan dan kebaikan. Ini justru yang menjadikan tenang hati hamba ketika bersandar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya, dalam hadīts qudsi Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَنَا عِندَظَنِّ عَبْدِى بِى

_"Aku ini sesuai dengan persangkaan, sesuai dengan pengharapan hambaku kepadaku."_

(Muttafaqun 'alaih)

Lihatlah, dalam hal pengampunan dosa, sebanyak apapun hamba berbuat dosa, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam sebuah hadīts qudsi yang shahīh riwayat Tirmidzi dan yang lainnya:

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ

_"Wahai manusia, selama engkau masih berharap kepada Allāh, berdo'a kepada Allāh maka aku akan ampuni semua dosa-dosamu, tidak perduli sebanyak apapun dosa tersebut."_

(Hadīts shahīh riwayat Tirmidzi nomor 3540)

Salah seorang shahābat Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika (sedang sakit) pernah dijengguk oleh Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam. Ditanya oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

كَيْفَ تَجِدُك 

_"Apa yang kamu rasakan saat ini?"_

Shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum itu mengatakan:

إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي.

_"Wallāhi Yā Rasūlullāh, aku benar-benar mengharapkan rahmat Allāh dan mengkhawatirkan dosa-dosaku (takut dosa-dosaku)."_

Ketika itu Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda:

لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

_"Demi Allāh yang jiwaku ditangan-Nya, tidaklah terkumpul dua perasaan (yaitu) takut dan berharap dalam hati seorang hamba dalam kondisi sakit seperti ini, kecuali Allāh akan berikan apa yang diharapkannya dan Allāh akan selamatkan dia dari apa yang dilakukannya."_

(Hadīts ini derajatnya hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi nomor 983)

Luar biasa, pengaruh dari penyandaran hati.

Makanya a'āsyiral muslimīn rahimakumullāh, janganlah kita mempersempit yang luas, apalagi mengatakan:

"Kita dahulukan dulu usaha, menyusun strategi, perbuatan ketrampilan anggota badan, baru kita bertawakkal, baru kita berdo'a dan bersandar kepada Allāh."

Subhānallāh.

√ Apakah pantas kita mengatakan pertolongan Allāh itu belakangan kita harapkan? Bukan dari awal?

√ Siapa yang akan memberikan bimbingan kepada kita dari awal untuk memulainya dengan tepat?

√ Untuk merencanakannya sesuai dengan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan, kalau bukan karena pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

⇒ Kenapa kita menjadikan, memohon pertolongannya itu nomor dua? Apalagi dalam urusan-urusan kebaikan yang berhubungan dengan agama?

Oleh karena itulah ma'āsyiral muslimīn rahimakumullāh, perkara tentang tawakkal, bersandar kepada Allāh tidak boleh kita remehkan. Sehingga sebelum berusaha, berbuat apa saja kita harus  berpikir:

→ Usaha ini bisa kita rancang strategi untuk menghasilkan yang baik.
→ Usaha ini mungkin dengan ketrampilan kita, hasil kursus kita, hasil bertanya kita, pengalaman kita, kita bisa memikirkan bagaimana caranya sebab-sebab untuk menghasilkan yang baik.

Tapi pertanyaannya, apakah kita tahu akibat kebaikan dari segala sesuatu ?

Apakah kita pastikan usaha yang kita anggap baik ini nanti juga akibatnya akan baik, dampaknya akan baik?

Utamanya bagi agama kita?

Pertanyaan yang lebih tinggi dari pada itu, apakah kamu yang lebih tahu dibandingkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Siapa yang sempurna pengetahuannya, yang mengetahui segala sesuatu dengan akibat-akibatnya?

Siapa yang bisa memastikan kebaikan yang kita perkirakan ini benar-benar baik untuk agama kita?

⇒ Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha mengetahui semuanya.

Makanya, perencanaan yang ada di dalam pikiran manusia bisa jadi dianggapnya baik, tapi bisa jadi setelah itu menimbulkan yang buruk.

Apa-apa yang tidak disukainya dianggap buruk, tapi ternyata bisa menghasilkan kebaikan. Karena manusia tidak tahu.

Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qur'ān:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون

_"Wahai manusia, bisa jadi kamu menyukai sesuatu (kamu membenci sesuatu) padahal itu mendatangkan kebaikan bagimu, atau kamu menyukai sesuatu padahal justru memberikan keburukan bagimu, dan Allāh Maha mengetahui sedangkan kalian (manusia) tidak mengetahui."_

(QS Al Baqarah: 216)

Maka tahu dirilah untuk kita kemudian mengatakan, "Setinggi apapun pengetahuan saya, saya tetap tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu."

Tahu dirilah untuk kita bersandar kepada sebaik-baik Dzat tempat kita pantas bersandar kepada-Nya, karena Dia sempurna ilmu-Nya, sempurna kebaikan-Nya, sempurna rahmat dan karunia-Nya.

Wallāhi, tentu pilihan-Nya lebih baik dari pada apa yang dipilih, dirancang dan direncanakan manusia itu untuk dirinya sendiri. Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha mengetahui dan Maha kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan nasehat ini bermanfaat dan memahami bahwa penyandaran diri kita kepada Allāh dari awal sampai akhir justru yang merupakan penentu terbesar dari kebaikan, hasil yang baik, dan kesudahan yang baik dari segala urusan kita.

Demikianlah mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.

Shallallāhu wa sallam wabārak 'alā nabiyyinā Muhammad wa 'alā alihi wa ashabihi waman tabi'ahum bi ihsanin ila yaumidīn, walhamdulillāhi rabbil'alamīn.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
------------------------------------------
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Jumat, 04 November 2016

Menjadi Orang Mulia

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 05 Shafar 1438 H / 05 November 2016 M
👤 Ustadz Fachri Permana
📔 Materi Tematik | Menjadi Orang Mulia
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-FP-OrangMulia
🌐 Sumber: https://youtu.be/9UhLa_u4z34
-----------------------------------

Kaum muslimin rohimani warohimakumullāh.

Siapa di antara kita yang tidak ingin menggapai kemuliaan?

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi manusia yang mulia?

Kita semua pasti menginginkannya.

Namun bagaimana cara kita mencari kemuliaan?

▪Ada di antara orang-orang yang ingin menggapai kemuliaan dengan hartanya. Memperbanyak harta supaya dia menjadi manusia yang mulia, yang di anggap oleh orang lain.

▪Ada yang ingin menjadi mulia dengan cara menjadi terkenal, ingin menjadi bintang dalam dunia perfilman dan lain sebagainya.

▪Ada pula orang yang ingin meraih kemuliaan dengan cara bagaimana supaya seluruh manusia ridho kepadanya.

Kaum muslimin yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Banyak cara dari berbagai macam manusia untuk menjadi mulia. Namun hakikat kemuliaan yang sejati itu seperti apa?

Oleh karenanya simaklah salah satu kisah yang sangat menakjubkan yang terjadi antara khalifah Umar Ibnul Khatthab radhiallahu 'anhu bersama sahabat Abu Ubaidah ibnul Jarrah.

Suatu ketika, ketika mereka berdua berjalan menuju Syam hendak menemui pembesar-pembesar orang-orang kafir, Umar Ibnul Khatthab radhiallahu 'anhu melepas sepatunya dan memegang pelana dari hewan kendaraannya.

Melihat hal itu sahabat Abu Ubaidah ibnu Al Jarrah mengatakan:

“Saya khawatir mereka, pembesar-pembesar orang-orang kafir, akan melecehkan anda wahai amirul mu’minin. Bagaimana mungkin seorang pemimpin melepaskan kedua sepatunya diletakkan di lehernya, kemudian menemui pembesar-pembesar orang-orang kafir dengan cara yang terlihat hina.”

Tetapi apa jawaban amirul mu’minin Umar ibnul Khatthab radhiallahu 'anhu?

Beliau mengatakan dengan kalimat yang emas, simaklah ucapan beliau:

إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العزة بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله

_“Sesungguhnya kita adalah suatu kaum yang Allah hinakan dahulu (karena memang bangsa Arab dahulu adalah bangsa yang hina, bangsa yang di remehkan) maka Allah muliakan kita dengan Islam. Maka dari itu, selama kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang Allah jadikan kita mulia yaitu Al Islam, maka sungguh Allah akan menghinakan kita.”_

(HR Al Hakim dalam Mustadrak 'ala Ash Shahihain, Juz 1 nomor 207)

Inilah, kaum muslimin yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Raihlah kemuliaan dengan agama islam.

# Jalankanlah syari’atnya,
# Hilangkanlah atau jauhilah larangan-larangan Allah,
# Carilah keridhaan dari Islam.

## Niscaya kita akan menjadi manusia yang mulia di mata masyarakat, di mata manusia apa lagi di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karenanya, kaum muslimin yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, marilah kita kembali kepada Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام

_“Sesungguhnya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam.”_

(QS Ali Imran: 19)

Satu-satunya cara agar kita menjadi mulia dunia maupun akhirat adalah dengan cara kembali kepada Islam.

Semoga bermanfaat, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamin.

____________________________
Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Jumat, 14 Oktober 2016

Jadilah Yang Terbaik

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 14 Muharram 1438 H / 15 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Anas Burhanuddin, MA
📔 Materi Tematik | Jadilah Yang Terbaik
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AB-Terbaik
🌐 Sumber:
https://yufid.tv/12190-ceramah-singkat-jadilah-yang-terbaik-anas-burhanuddin-ma.html
-----------------------------------

JADILAH YANG TERBAIK

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، و على آله و اصحابه ومن وله

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan kita semua dalam keadaan berbeda-beda. Berbeda jenis kelamin, warna kulit, kemampuan ekonomi, tingkat pendidikan dan ilmu, dan perbedaan yang lainnya.

Seringkali dalam perbedaan-perbedaan ini kita tidak punya pilihan. 

⇒ Ada anak yang lahir dalam keadaan cacat, buta atau lumpuh. Sementara anak yang lain lahir dengan fisik yang begitu sempurna.

⇒ Ada anak yang lahir ditengah lokalisasi sehingga dianggap remeh dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitarnya.

Sementara anak yang lain begitu terhormat,  bahkan sejak kecil menjadi pangeran bahkan raja sebelum dewasa.

⇒ Ada orang yang sudah bekerja membanting tulang sepanjang hari, sepanjang pekan, sepanjang tahun namun rejekinya tidak banyak.

Dia tidak pernah bisa keluar dari garis kemiskinan. Sementara orang lain begitu lancar rejekinya tanpa harus bercapek ria.

⇒ Ada orang yang begitu sulit belajar.

Dia sudah mengerahkan segala kemampuan dan pikirannya namun dia tidak pintar-pintar karena memang Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan dia banyak keterbatasan.

Karena dalam perbedaan-perbedaan ini kita tidak bisa mempunyai pilihan, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menjadikan perbedaan ini sebagai cara pandang, tidak menjadikannya sebagai parameter dan timbangan dalam menilai kita, karena Islām adalah agama yang adil.

Islām telah membuat timbangan yang adil untuk umatnya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

_"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allāh adalah yang paling bertaqwa diantara kalian."_

(QS Al Hujurāt: 13)

Hal ini ditafsirkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts riwayat Muslim. 

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ  يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

_"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak melihat kepada rupa-rupa kalian, tidak pula kepada harta-harta kalian, namun Allāh Subhānahu wa Ta'āla melihat kepada hati kalian dan amalan kalian."_

(HR Muslim nomor 4650 versi Syarh Muslim nomor 2564)

Inilah timbangan Islām yang adil, sehingga masing-masing dari kita:

√ Bisa menjadi orang yang paling bertaqwa disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Bisa menjadi orang yang berhati paling jernih.
√ Bisa menjadi orang yang beramal paling banyak.

Tanpa terhalang oleh latar belakangnya.

Kedudukan yang tinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak terhalang oleh jenis kelamin yang tidak kita gemari, warna kulit yang tidak kita senangi, darah yang tidak biru, kantong yang tidak tebal atau postur kita yang pendek-pendek dan pesek-pesek.

Bahkan kedudukan yang tinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak terhalang oleh ilmu kita yang kurang.

Buktinya, orang terbaik dari kalangan tābi'in bukanlah orang yang paling 'alim atau ulamā diantara mereka. 

Orang terbaik dari kalangan tābi'in yang merupakan generasi kedua umat Islām adalah seorang pria yang disebut oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts riwayat Muslim nomor 4612 versi Syarh Muslim nomor 2542:

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ

_"Sebaik-baik tābi'in adalah seorang pria yang bernama Uways."_

Beliau adalah Uways bin Amir Al Qarani, siapa beliau?

Beliau bukan orang yang kaya raya, bukan orang yang berdarah biru, bukan pula pejabat dan bukan pula ulamā, beliau hanya orang biasa yang bahkan disebutkan dianggap remeh oleh masyarakatnya.

Namun dengan taqwa beliau, iman beliau, bakti beliau kepada ibu beliau dan amalan-amalan hati beliau serta kebersihan hati beliau, beliau menjadi yang terbaik dikalangan tābi'in.

Kalau yang terbaik di kalangan tābi'in adalah orang yang serba kurang, maka yang terbaik dikalangan shahābat adalah orang yang serba lebih, beliau adalah Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.

Para ulamā sepakat bahwasanya yang terbaik dikalangan generasi pertama umat Islām yaitu para shahābat adalah Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.

Beliau adalah seorang yang tampan, seorang yang kaya raya, seorang pejabat, seorang bangsawan dan berdarah biru dan beliau juga seorang tokoh ulamā dikalangan shahābat.

Namun bukan itu yang telah membuat Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu menjadi yang terbaik dikalangan shahābat.

Yang menjadikan beliau terbaik dikalangan shahābat adalah taqwa beliau, hati beliau yang bersih, iman beliau yang kuat dan amalan beliau yang banyak yang tercermin dalam sebuah hadīts riwayat Muslim.

Bahwasanya suatu hari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengumpulkan para shahābat beliau dan bertanya, "Siapa yang hari ini berpuasa?"

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu mengangkat tangan dan mengatakan, "Saya, wahai Rasūlullāh.'

"Siapa yang hari ini sudah mengantar jenazah?"

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq Radhiyallāhu 'anhu lagi yang menjawab, "Saya, wahai Rasūlullāh."

"Siapa yang hari ini sudah memberi makan untuk orang miskin?"

Sekali lagi, Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu yang mengangkat tangan, "Saya, wahai Rasūlullāh."

"Siapa yang hari ini sudah menjengguk orang sakit?"

Dan lagi-lagi Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu mengatakan, "Saya, wahai Rasūlullāh."

Kemudian Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Tidaklah keempat amalan ini terkumpul pada seorang mu'min (maksudnya dalam 1 hari) kecuali dia akan masuk surga."

Ikhwan dan akhwat yang budiman,

Setiap dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kalau kita memiliki kelebihan ucapkanlah syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan jadilah seperti Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu yang diberikan banyak kelebihan namun dia tidak terperdaya oleh banyak kelebihannya.

Karena beliau sadar bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak pernah melihat beliau dari kelebihan-kelebihan dunia itu. Maka beliau beramal, membersihkan hati, membersihkan diri dan bertaqwa sehingga akhirnya beliau bisa meraih kemulian disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sebaliknya, kalau kita mendapatkan kekurangan-kekurangan dalam diri kita hendaklah kita tetap bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, jangan minder!

Karena kesempatan tidak tertutup sama sekali. Jadilah seperti Uways bin Amir Al Qarani yang serba kurang tapi dengan amal dan taqwanya akhirnya bisa menjadi yang terbaik dari kalangan tābi'in.

Demikian semoga yang sedikit ini bermanfaat.

و الله تعالى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسلم
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota

📦 Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000

*_Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah_*
🌎www.cintasedekah.org
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Sabtu, 27 Agustus 2016

Merebut Istri Orang, Nikah Batal ?

Merebut Istri Orang

Apa hukumnya bila saya sudah terlanjur menikah dgn seorang wanita mantan suami orang?dgn catatan mereka bercerai karena saya si suami tdk bersalah. apakah pernikahan itu syah bila saya bertobat apakah saya harus menceraikannya?karena saya merasa di kejar perasaan bersalah

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Apa yang bisa bayangkan, ketika suami pertama wanita adalah anda? Istri anda didekati lelaki lain, hingga diapun jatuh cinta kepadanya dan berusaha meminta anda untuk menceraikannya, agar bisa menikah dengan lelaki itu. Tentu anda akan sakit hati dan marah kepada lelaki itu.

Saat ini, lelaki itu adalah anda. Dan pasti mantan suami dari wanita yang kini menjadi istri anda sangat benci kepada anda. Inilah dosa takhbib. Menjadi penyebab percerian dan kerusakan rumah tangga. Karena kehadirannya, membuat seorang wanita menjadi benci suaminya dan meminta untuk berpisah sehingga bisa menikahi lelaki kedua yang sedang dekat dengannya.

Sebagaimana anda

Dalam banyak hadisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman keras untuk pelaku takhbib. Diantaranya,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keterangan selengkapnya, bisa anda pelajari di:Ketika Dicintai Wanita Bersuami

Hukum Pernikahan Hasil Takhbib

Kita fokus di hukum pernikahan hasil merusak rumah tangga orang lain.

Terdapat kaidah fiqh yang menyatakan,

من تعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه

Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, dia dihukum dengan cara dilarang untuk mendapatkannya.

Terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, termasuk pelanggaran dalam agama. Seorang baru bisa mendapatkan warisan dari orang tuanya, jika ortunya telah meninggal. Tapi jika dia buru-buru ingin mendapatkannya dengan cara membunuh ortunya, maka tindakannya menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan warisan dari ortunya.

Dan semua pernikahan yang diawali dengan cara yang batil, hasilnya juga kebatilan.

Atas dasar ini, sebagian ulama memutuskan bahwa ketika terjadi perpisahan dalam keluarga, sehingga si istri bersemangat untuk minta cerai disebabkan kehadiran lelaki baru, maka mereka dipisahkan selamanya. Dihukum dengan keputusan yang berkebalikan dengan harapan dan keinginannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وقد صرّح الفقهاء بالتّضييق عليه وزجره ، حتّى قال المالكيّة بتأبيد تحريم المرأة المخبّبة على من أفسدها على زوجها معاملةً له بنقيض قصده، ولئلاّ يتّخذ النّاس ذلك ذريعةً إلى إفساد الزّوجات

Sebagian ulama menegaskan dengan memberikan putusan paling susah untuknya dan melarangnya. Sampai Malikiyah mengatakan, bahwa wanita yang berpisah ini diharamkan untuk menikah dengan lelaki yang menjadi penyebab kerusakan rumah tangganya, diharamkan untuk selamanya. Sebagai hukuman baginya, dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Agar semacam ini tidak menjadi  celah bagi masyarakat untuk merusak hubungan para wanita (dengan suaminya). (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/251).

Dalam pernyataan lain, juga di Ensiklopedi Fiqh,

قد ذكروا أن النكاح يفسخ قبل الدخول وبعده بلا خلاف عندهم، وإنما الخلاف عندهم في تأبيد تحريمها على ذلك المفسد أو عدم تأبيده

Mereka – ulama Malikiyah – menyebutkan bahwa nikahnya dibatalkan, baik sebelum berhubungan maupun sesudah berhubungan, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan mereka. Namun yang menjadi perbedaan adalah apakah lelaki pelaku takhbib itu diharamkan untuk menikahi wanita selamanya ataukah tidak sampai selamanya.

فذكروا فيه قولين:

أحدهما وهو المشهور: أنه لا يتأبد، فإذا عادت لزوجها الأول وطلقها، أو مات عنها جاز لذلك المفسد نكاحها.

الثاني: أن التحريم يتأبد، وقد ذكر هذا القول يوسف بن عمر كما جاء في شرح الزرقاني، وأفتى به غير واحد من المتأخرين في فاس

Mereka menyebutkan adanya dua pendapat:

Pertama, dan ini yang lebih terkenal, bahwa mereka dipisahkan tapi tidak selamanya. Jika si wanita kembali kepada suami pertama, kemudian diceraikan oleh suami pertama atau suami pertama meninggal, maka si lelaki kedua ini boleh menikahi wanita itu.

Kedua, mereka diharamkan menikah selamanya. Diantara yang menyatakan pendapat ini adalah Yusuf bin Umar, seperti yang disebutkan dalam Syarh az-Zarqani, dan ini yang difatwakan  beberapa ulama kontempporer di daerah Fez – Maroko. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 11/20).

Dalam kitab al-Iqna’ dinyatakan,

وقال في رجل خبب امرأة على زوجها : يعاقب عقوبة بليغة ، ونكاحه باطل في أحد قولي العلماء في مذهب مالك وأحمد وغيرهما ، ويجب التفريق بينهما

Syaikhul Islam mengatakan tentang orang yang mempengaruhi wanita sehingga bercerai dengan suaminya, lelaki ini harus mendapatkan hukuman berat. Nikahnya batal, menurut salah satu pendapat ulama dalam madzhab Malik dan Ahmad serta yang lainnya. Dan wajib dipisahkan keduannya. (al-Iqna’, 3/182).

Memang lelaki ini menikah dengan si wanita atas dasar saling ridha. Tapi perlu dia ingat, dia membangun keluarga dengan cara bermaksiat kepada Allah dan merusak keluarga orang lain…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

SPONSOR hubungi: 081 326 333 328DONASI hubungi: 087 882 888 727REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28265-merebut-istri-orang-nikah-batal.html

Jumat, 19 Agustus 2016

CITA-CITA MASUK SURGA

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 17 Dzulqa'dah 1437 H / 20 Agustus 2016 M
👤 Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc
📔 Materi Tematik | Cita-Cita Masuk Surga
🌐 Sumber: https://youtu.be/wYOBLBb5gPE
-----------------------------------

CITA-CITA MASUK SURGA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحـمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آلـه وصحبه ومن والاه. أَمَّـا بـعد

Bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudariku rahimani wa rahimakumullāh setiap kita pasti memimpikan, mencita-citakan untuk masuk ke dalam surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tempat yang penuh dengan kenikmatan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyiapkan sesuatu (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata manusia, belum pernah terdengar oleh telinga manusia dan belum terlintas dalam benak manusia”

(HR Bukhari nomor 3005 versi Fathul Bari nomor 3244 dan Muslim nomor 5050 versi Syarh Muslim nomor 2824)

Sungguh luar biasa kenikmatan di surga, نسأل الله الجنة (kita mohon kepada Allāh supaya kita dimasukkan ke dalam surgaNya).

Ma’asyaral muslimin rahimani wa rahima kumullāh, namun tidak semudah yang dibayangkan, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk bisa masuk ke dalam kenikmatan tersebut, untuk bisa kita meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla di akhirat kelak.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun pernah bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Surga di kelilingi dengan hal-hal yang sangat amat menyusahkan manusia."

(HR Muslim nomor 5049 versi Syarh Muslim nomor 2822)

==> Penuh dengan onak dan duri, penuh dengan krikil-krikil tajam, penuh dengan halangan dan rintangan, penuh dengan cobaan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga? Sedangkan belum sampai kepada kalian, belum menimpa kalian apa-apa yang menimpa orang-orang yang sebelum kalian dari cobaan, dari ujian sampai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan orang-orang beriman bersama beliau mengatakan kapan datangnya pertolongan Allāh ? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allāh itu sangat dekat”

(QS al-Baqarah: 214)

Ini lah yang wajib kita yakini perjalanan menuju surga itu dipenuhi dengan duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan krikil-krikil yang sangat tajam yang jika kaum muslimin mau mengharapkan surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla wajib untuk dia melewatinya dengan penuh kesabaran.

Oleh karena itulah tidak akan mungkin orang itu bisa meraih surga Allāh kecuali dengan perjuangan, pengorbanan dan betul-betul kesabaran yang sangat amat luar biasa, oleh karena itulah Allāh berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”

(QS al Baqarah: 155)

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran."

(QS al 'Ashr: 1-3)

Bahkan Imam Ahmad rahimahullāh mengatakan karena sangat pentingnya kesabaran ini Allāh pun menyebutkannya di dalam lebih 90 ayat di dalam al-qur’anul.

Perjalanan menuju surga itu harus ditempuh dengan kesabaran karena surga dikelilingi duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan halangan dan rintangan.

Kita wajib untuk bersabar, bersabar dalam mentaati Allāh, bersabar dalam meninggalkan maksiat kepada Allāh dan bersabar dalam menghadapi musibah-musibah yang Allāh timpakan kepada kita.

Aqulu qauli hadza wa akhiru da’wana anil hamdulillhi rabbil alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
____________________________
PENDAFTARAN Grup WhatsApp
BIMBINGAN ISLAM Gelombang 06

⏰  WAKTU PENDAFTARAN

Kamis, 01 Dzulqa'dah 1437H /
04 Agustus 2016M

sampai dengan

Sabtu, 15 Dzulhijjah 1437H /
17 September 2016M

🌐  LINK PENDAFTARAN
Pendaftaran dapat dilakukan melalui link:
http://BimbinganIslam.com/PendaftaranAnggota

🔓  PEMBUKAAN GRUP
Sabtu, 29 Dzulhijjah 1437H / 01 Oktober 2016M

Rabu, 10 Agustus 2016

WASPADAI PERANGKAP-PERANGKAP ZINA

💔 WASPADAI PERANGKAP-PERANGKAP ZINA

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُه

⛔ “Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan mengenainya tidak mungkin tidak, maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah meraba, kaki zinanya adalah melangkah, hati bernafsu dan berkeinginan, dan yang membenarkan serta mendustakan semua itu adalah kemaluan.”

📚 [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

══════ ❁✿❁ ══════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam ⤵

📮 Join Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲 Gabung Group WA: 08111377787
🌍 Fb: www.fb.com/taawundakwah
🌐 Web: www.taawundakwah.com
📱 Android: http://bit.ly/1FDlcQo
🎬 Youtube: Ta’awun Dakwah
📒 Hastag: #Mutiara_Sunnah

Sabtu, 23 Juli 2016

Lemah VS Lemah Siapa yang Menang ?

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 18 Syawwal 1437 H / 23 Juli 2016 M
👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA
📔 Materi Tematik | Lemah VS Lemah Siapa yang Menang ?
🌐 Sumber:
http://catatankajian.com/624-lemah-vs-lemah-siapa-yang-menang-ustadz-abdullah-zaen-ma.html
-----------------------------------

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya yakin semua dari kita pernah mengucapkan ta’awaudz, yaitu ungkapan:
  أعوذ بالله من الشيطان الرجيم (A'ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm).

Dan saya yakin semuanya sudah hafal dan kalau ditanya tentang artinya sekilas mungkin banyak yang sudah tahu.

A'ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm, aku memohon perlindungan kepada Allāh dari godaan atau syaitan yang terkutuk.

Tapi:
🔗Sudahkah kita mendalami makna dari kalimat yang mulia ini?
🔗Sudahkan kita mengetahui kenapa kita diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk memohon perlindungan kepadanya ?
🔗Apakah syaitan adalah makhluk yang kuat sehingga kita perlu bantuan Allāh Subhānahu wa Ta'āla ?
🔗Kalau memang syaitan makhluk yang lemah, kenapa kita perlu meminta bantuan Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Inilah yang in syaa Allāh akan sedikit kita kupas pada kesempatan yang berbahagia kali ini.

Pertanyaan pertama tentunya adalah kenapa kita minta perlindungan sama Allāh, apakah syaitan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allāh, kalau memang syaitan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja, kalau misalnya anda na’udzubillāhimindzālik dirampok misalnya.
Anda misalnya dirampok oleh sepuluh perampok, yang mana sepuluh perampok itu adalah orang yang kuat-kuat, saya yakin saat itu anda perlu bantuan, anda perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk menghadapi sepuluh perampok yang kuat-kuat tersebut, namun sekarang kalau misalnya ada perampok datang kepada anda dia orangnya kurus, lemah bahkan mungkin anak kecil katakanlah, dia anak kecil akan merampok anda dan anda tidak perlu bantuan kepada orang lain karena anda merasa bisa menangani perampok itu sendiri.

Syaitan adalah makhluk yang lemah, silahkan anda dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 76 disitu Allah subhanahu wat’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah”

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah, jadi sejatinya syaitan adalah makhluk yang lemah, syaitan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah subhanahu wata’ala untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut ?

Apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah subhanahu wata’ala ?

Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah, makannya dalam Al Qur’an surat An Nisa juga, dan ini menarik, surat An Nisa juga di ayat berbeda yaitu ayat ke 28 Allah subhanahu wata’ala menegaskan:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”

Berarti syaitan lemah dan manusia juga lemah, berarti sekarang lemah versus lemah, ah kalau lemah ketemu sama lemah siapa yang menang, yang jadi pertanyaan siapa yang menang?

Yang menang adalah yang minta pertolongan kepada yang maha kuat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dari sinilah kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman di dalam surat yang lainnya yaitu dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 200, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirmant:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla “seandainya kalian sedang diganggu oleh syaitan maka mintalah perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla”

Mintalah perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kenapa kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla Maha Mendengar dan Maha Melihat”

Jadi dalam Ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allāh jala wa ‘ala karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla punya kemampuan supaya kita menang melawan syaitan kita harus minta perlindungan dan pertolongan serta bantuan dari Dzat yang Maha Kuat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dari sinilah kita diperintahkan untuk ber isti’adzah, maka jangan sampai diantara kita terlalu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, mentang-mentang saya udah shālat lima waktu dengan rajin, saya sudah berdzikir, saya sudah berpuasa, saya sudah berhaji tidak mungkin syaitan akan menang melawan saya, ini semuanya adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Makannya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diantara do’a yang sering beliau ucapkan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan do’a ini atau hadits ini dinilai hasan oleh syaikh Al Albani, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو

“Ya Allāh aku mengharapkan rahmat-Mu wahai Allāh, aku mengharapkan kasih sayang-Mu wahai Allāh”

Kemudian kata Nabi apa?

فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Janganlah engkau jadikan aku bergantung pada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata”

Sekejap mata itu, berapa sih ?

Sekejap mata, satu detik atau bahkan kurang dari itu, Nabi kita Shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mau menggantungkan diri pada kekuatan dirinya sendiri saja, karena apa karena manusia adalah makhluk yang lemah.

Seandainya Nabi kita Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah merupakan sosok makhluk yang paling bertakwa, keimanannya paling unggul, ketakwaannya paling tinggi diantara sekian banyak manusia yang ada di muka bumi saja mengakui kelemahan dirinya kenapa kita seperti itu wahau kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati.

Maka mari kita berusaha untuk mengucapkan

أعوذ بالله من الشيطان الرجي (A'ūdzubillāhiminasysyaithānirrojīm)

Bukan hanya sekedar di lisan kita tapi kita masukkan ke dalam hati kita, kita meyakini bahwa kita adalah makhluk yang lemah, kita adalah insan yang fakir yang membutuhkan bantuan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga kita senantiasa menggantungkan nasib kita, urusan kita, kepentingan kita, seluruh kehidupan kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Kaya Allāh Subhānahu wa Ta'āla: “Bertawakal lah kalian kepada yang maha hidup yang tidak akan pernah mati”.
(QS AlFurqan 58)

Jadi disinilah kita diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk menggantungkan diri kita, untuk menggantungkan nasib kita kepada yang maha hidup dan yang tidak akan pernah mati.

Kata para ulama, disini ada tiga jenis yang kita tidak boleh menggantungkan diri kepada mereka:

(1) Benda mati, yang memang jelas-jelas dia itu mati seperti batu, keris, jimat kemudian berhala, patung dan seterusnya benda mati, ini yang pertama kita tidak boleh menggantungkan diri kepada benda mati.

(2) Makhluk hidup, makhluk hidup yang akan mati, jangan kita menggantungkan diri kepada makhluk hidup yang akan mati karena mereka suatu saat nanti akan hilang, mereka suatu saat nanti akan tidak ada di muka bumi ini, ini makhluk hidup yang akan mati, yang akan mati siapa ya manusia, jin, syaitan dan seterusnya.

(3) Makhluk hidup yang sudah mati, siapa itu ya merekalah yang ada di kuburan, jangan kita gantungkan diri kita kepada mereka.

Tapi gantungkanlah seluruh urusan kita, mohonlah perlindungan dan bantuan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Al Hayyi yang maha hidup Alladzii laa yamuut yang tidak akan pernah mati.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallāhuta’ala wa a’lam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

__________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com